Konvensi Nasional Humas 2012


Konvensi Nasional Humas 2012
Hotel Sahid Jaya 9-12 Desember 2012


MAMPUKAH MEDIA SOSIAL MENGUBAH PERLAKU?


Pada 2 Januari 2012 lalu, publick bisa melihat perubahan nama akun pseudonim populer @soalCINTA menjadi @DennyJA_CINTA. Ada kabar – seperti ditulis Pitra Satvika (@pitra), 5 Januari lalu, akun tersebut dibeli oleh Denny JA -- Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebuah lembaga penelitian dan konsultan politik pertama berskala nasional yang berada di Indonesia. Sebelum membeli @soalCINTA mempunyai akun@DennyJA_Pantun. Ketika dibeli, akun @soalCINTA memiliki lebih dari 1 juta follower. Ini menjadikan salah satu akun pseudonim paling populer dan langganan bagi para brand untuk berpromosi.
Orang mungkin menganggap aneh akuisisi yang dilakukan oleh Denny.  Ini karena karakteristik follower akun ini kebanyakan para ABG yang kemungkinan besar tak terlalu peduli dengan isu-isu politik. Tetapi, Denny mungkin alasan lain. Misalnya, bahwa melalui akunnya itu ABG yang merupakan pemilih terbesar saat ini dan potensi sebagai pemilih di masa mendatang bisa diedukasi sehingga sikap politiknya berubah.
Dalam beberapa bulan terakhir, jual beli akun atau foloower memang marak. Lihat saja di kaskus (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11500514), Anda menemukan tawaran follower atau akun twitter berfollower ratusan, bahkan ribuan dengan harga yang tidak mahal. Ini berbeda dengan yang dilakukan artis atau tokoh global yang memasang tariff tertentu untuk memberikan jasa mentweet pesan-pesan promosi perusahaan, merek atau Anda.
Ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Sebab para penggemar media baru mengatakan Twitter, Facebook, MySpace dan situs jejaring sosial telah  mengubah dunia. Mereka menunjuk kampanye presiden Barack Obama pada 2008, demonstrasi di Iran (2009) dan "Revolusi Twitter" Moldova  di Eropa Timur pada tahun 2009, Revolusi Mesia (2011) dan kawasan lainnya  sebagai bukti bahwa semua tweets dan update status berhasil membuat perubahan.
Karena keberhasilan itu, orang pun ingin percaya dan ingin menjajal kekuatan online. Sebagian terbukti, sebagian lain tidak. Sebab nyatanya, tidak semua rewet atau status – meski disampaikan oleh orang terkenal sekalipun  -- tidak mampu mengubah perilaku seseorang. Hanya dengan cara tertentu perubahan bisa terjadi.
Pada November 2010, Nicholas A. Christakis dan James H. Fowler yang menulis untuk CNN, memberikan ilustrasi kasus aktris Alyssa Milano untuk menjelaskan fenomena tersebut. Menurut mereka, Milano sering melakukan tweet, dan tweeter mencintai Milano. Menurut catatan Twitter, dia memiliki 1,94 juta pengikut yang setiap saat dapat belajar bagaimana dia makan, ketika dia tidur dan apa yang dibaca melalui 19,85 ribu tweetsnya. Pada tanggal 15 September, tanpa sepengetahuan Christakis dan Fowler, Milano mentweeted buku mereka yang berjudul "Connected." Dalam tweet-nya itu Milano juga memasukkan link langsung ke halaman Amazon.com sebagai saluran bila orang ingin membeli buku tersebut.
Apakah serta merta penjualannya buku itu meroket? Ternyata tidak. Pembeli buku memang ada, tetapi penjualan buku itu justru berada di tingkat terendah pada periode 24 jam setelah Milano mentweet-nya. Taka da penjualan ekstra karena tingginya permintaan. Itu tak mengherankan. Karena, jaringan online mungkin bagus untuk penyampaian pesan atau informasi, tetapi saluran ini sulit untuk mengubah perilaku.
Christakis dan Fowler lalu memberikan ilustrasi lain. Meskipun penelitian Christakis dan Fowler menunjukkan bahwa obesitas, kebahagiaan dan bahkan perceraian dapat menyebar dalam jejaringa teman dekat, namun sedikit bukti yang memberikan gambaran bahwa perilaku menyebarkan itu dilakukan secara online oleh mereka yang hubungan merenggang.
Pada 30 September, Christakis dan Fowler membawa pengalaman tweet Milano tersebut dalam suatu konferensi yang diadakan di Washington yang diadakan the American Legacy Foundation. Konferensi itu membahas penggunaan jaringan online untuk mendorong orang berhenti merokok. Ada potensi besar dalam jaringan online karena banyak perokok yang terhubung dan satu sama lain saling memberikan motivasi. 
Tetapi,  menurut Christakis dan Fowler, sangat sulit untuk mengubah perokok untuk berhenti merokok. Mereka lalu memaparkan pengalamannya dengan Milano yang ternyata tak mampu mengubah menubah perilaku orang tersebut. 
Salah satu peserta -- Susannah Fox dari the Pew Research Center's Internet and American Life Project --  berkomentar bahwa yang ada seseuatu yang tak benar yang telah lakukan. Fox berpendapat bahwa jika orang lain -- seseorang yang benar-benar berpengaruh --  seperti Tim O'Reilly mengirimkan tweet, mungkin bisa memberikan hasi yang berbeda.
Christakis dan Fowler lalu menghubungi O'Reilly dan O’Reilley bersedia melakukan percobaan kecil-kecilan. Pada 1 Oktober, O’Reilly mengirimkan sebuah tweet positif tentang "Connected" dan juga menyertakan link ke Amazon.com ke 1,5 juta follower-nya. Kali ini, penjualan buku Connected naik sedikit. Buku itu terjual dengan satu atau dua penjualan esktra. Mengingat jumlah pengikut yang dia miliki, hasil yang dicapai dengan tweet O’Reilly masih lebih baik dari hasil tweet-nya Milano. Itu berarti O’Reilly mengalahkan sang aktris meski tak besar perbedaannya.
Jadi, apakah perlu kita meminta bantuan seorang tokoh yag memiliki banyak follower di Twitter untuk mempromosikan produk, merek, atau pribadi kita? Christakis dan Fowler tak berhenti melakukan penelitiannya. Dia lalu meminta bantuan Fox yang saat itu hanya memiliki 4,345 followers untuk mentweet tentang Connceted.  Hasilnya, terjadi ekstra penjualan sebanyak tiga buku. 
Dari ilustrasi diatas,  dapat diperoleh gambaran bahwa sebuah kelompok – jumlah follower -- yang lebih kecil  ternyata -- mungkin -- lebih influenceable dari pada individu maupun kolektif yang memiliki jutaan orang follower di Twitter.  Beberapa studi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan beberapa pemikiran ulang tentang pengaruh dalam komunikasi melalui online. Pertama, besaran pengaruh tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah orang yang terhubung dengannya, melainkan juga sifat dan kualitas dari hubungan tersebut.
Malcolm Gladwell, penulis beberapa buku tentang jejaring seperti the Tipping Point, baru-baru ini mengatakan bahwa seyogyanya kita tidak terlalu berharap bahwa jejaring sosial online dapat digunakan untuk perubahan skala besar . Alasannya, ikatan hubungan yang terjalin secara online biasanya lemah, ikatannya tidak kuat seperti untuk keluarga kita, tetangga dekat dan teman-teman dalam dunia nyata.
Tapi perspektif ini berhadapan dengan relatitas yang tidak bisa dipungkiri bahwa meski tidak terlalu kuat, namun jumlah orang atau kelompok yang tergabung dalam jaringan sosial secara online ini sangat besar. Dalam kondisi seperti itu, seringkali, kelemahan kecil bisa ditutupi oleh sesuatunyang besar.  Dalam kasus revolusi Mesir misalnya, isu perubahan merupakan sesuatu yang sangat penting. Puluhan tahun bangsa Mesir terbelenggu oleh suatu pemerintahan yang tiran. Saat itu bangsa Mesir sudah muak dengan pemerintahan yang ada. Mereka ingin berubah. Karena itu, tweet yang dilemparkan – bahkan oleh orang yang tak dikenalpun – bisa mempengaruhi perilaku orang. Disini ada persamaan ide dan tujuan antara penyampai pesan dan penerima pesan untuk melakukan sesuatu. Mereka bekerjasama untuk saling memberitahu, memberi dukungan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.
Disinilah pentingnya pemasar atau siapa saja yang memanfaatkan seseorang atau kelompok di Twitter atau jejaring media sosial. Christakis dan Fowler memberikan ilustrasi, pada tahun 2008, seorang insinyur 33 tahun Kolombia mampu memobilisasi 4,8 juta orang untuk menghadiri rapat umum di seluruh dunia guna memprotes penyanderaan oleh kelompok-kelompok revolusioner di negaranya. Insinyur itu memulai dari kelompok kecil. Mulai dari dirinya sendiri, yang diikuti oleh lima orang teman dekatnya.  Kemudian merambah ke orang-orang lain yang memiliki hubungan pribadi dengan para sandera, orang-orang lain yang pernah senasib, orang-orang yang merasa empati, dan seterusnya ke jutaan orang lain yang concerned dengan masalah penyanderaan dan pembelaan hak-hak asasi manusia dan anti kekerasan. Mereka digerakkkan oleh tujuan yang sama, yakni pembebesan sandera.
Pelajaran kedua yang diperoleh dari febomena ini adalah bahwa untuk membuat menciptakan pengaruh, yang diperlukan bukan hanya ketikohannya, tapi juga pengaruhnya atau kemampuan dari sang tokoh untuk menjadi  "influenceables." O'Reilly dan Milano sangat persuasive. Mereka terhubung dengan jutaan orang followernya. Tapi pada akhirnya, Fox yang hanya memiliki ribuan follower yang berhasil mememenangkan penjualan. Ini berarti, untuk membuat sebuah perubahan, yang diperlukan bukan sekadar dombanya, tapi juga penggembalanya.
Akhirnya, yang paling penting bagi upaya untuk memanfaatkan kekuatan internet untuk mengubah perilaku masyarakat adalah, pengelola harus belajar mengolah interaksi online sehingga yang terinteraksi merasa seakan-akan dia berada di dunia nyata.(edhy aruman)

PENGURUS BPP PERHUMAS 2011-2014

 

DEWAN KEHORMATAN
1. Muslim Basya, MBA
2. Victor Siburian, B.Sc
3. Dr. Fuad Afdal
4. Dra. Miranti Abidin
5. Teddy Kharsadi, MBA, BBM

DEWAN PENASEHAT
1. Aminuddin
2. Arifin Pasaribu
3. August Parengkuan, Bsc
4. Dr. Indrawadi Tamin
5. Inke Maris, MA
6. Wisaksono Noeradi
7. Yanto Sianipar

TIM PAKAR
1. Dr. Marlinda Puteh
2. Halim Mahfudz, MA
3. Heri Rakhmadi
4. Noke Kiroyan, B.A, S.Sos, Grad.dipl.
5. Prof. Dr. Alo Liliweri
6. Prof. Dr. Deddy Mulyana
7. Prof. Harsono Suwandi
8. Ir. Ridwan Nyak Baik, MM
9. Dr. Elvinaro Ardianto, M.Si
10. Dr. Widodo Muktiyo, SE, M.Com

KETUA UMUM
Prita Kemal Gani, MBA, MICPR, APR

WAKIL KETUA UMUM
1. Agung Laksamana, M.Sc.
2. Troy Pantouw

SEKRETARIS UMUM
1. Ruddy K. Gobel, SE, AK, ME
2. Kamal, S.Sos, MM

BENDAHARA
1. Ita Kusumawati, SE
2. Leila Djafaar
3. Rini Chandra RW

BIDANG KOMUNIKASI
1. Vishnu Juwono, SE., MIA
2. Dewi Assa’ad
3. Dr. Felix Jebarus
4. Henny Puspitasari

BIDANG KEANGGOTAAN
1. Rizka Septiana, S.Sos, S.Si.
2. Ari Kartika, M.Si
3. Imuthia Yanindra, S.Si, M.Si.
4. Teges Prita Soraya

BIDANG KERJA SAMA
1. Marlene Danusutedjo
2. Dian Noeh Abubakar, B.Arts
3. Deva Rachman
4. Maya Harsono

BIDANG LITBANG
1. Ir. Arno Kermaputra, M.Si
2. Arie Nauvel
3. Febriati Nadira

BIDANG PUBLIKASI
1. Akhmad Edhy Aruman, M.Si
2. Aprida M. Sihombing, S.Si
3. Dr. Hifni Alifahmi

BIDANG PENGEMBANGAN BPC
1. Syafiq Basri Assegaff, MA
2. Dra. Yumiliani Dasuki, MM
3. Amrih Sahri
4. Indira Abidin, SE, M.Ed

Konvensi Nasional Humas Indonesia 2008

Perhumas akan menyelenggarakan "Konvensi Nasional Humas Indonesia 2008" tanggal 3-6 Desember 2008 dengan tema : "Branding the Nation" di Planet Holiday Hotel, Batam.

KONVENSI NASIONAL HUMAS 2008 (KNH 2008)

1. LATAR BELAKANG


APA yang salah dengan nama “Indonesia”? Mangapa ada orang Indonesia tidak bangga menjadi Indonesia? Mengapa sebagian mata internasional memandang Indonesia dengan kaca mata buram? Mengapa segala sesuatu yang serba Indonesia sering dipersepsi murah, berkualitas rendah, dan tidak kompetitif – bahkan oleh orang Indonesia sendiri?

Bagi seniman besar Shakespeare, nama mungkin bukan sesuatu yang penting - apalah arti sebuah nama? Tapi tidak untuk sebuah negara-bangsa. Apalagi di era globalisasi saat ini.

Salah satu implikasi penting dari globalisasi yang kita rasakan adalah kecenderungan integrasi ekonomi, baik regional maupun internasional. Tujuannya, terutama untuk meningkatkan arus perdagangan dan investasi antarnegara anggota. Ketergantungan atau keterkaitan ekonomi antarnegara ini menimbulkan persaingan yang ketat di antara pihak terkait. Karena setiap negara berupaya mempertahankan kekuatan dan stabilitas ekonomi masing-masing.

Di luar masalah ekonomi, globalisasi juga membawa implikasi lain. Ada pergerakan manusia dengan segala kompleksitas sosialnya: budaya, bahkan ideologi dan nasionalisme.

Adalah sebuah keniscayaan ketika Indonesia memilih menjadi salah satu pemain dunia dalam pasar global. Persoalannya, seberapa kompetitif Indonesia mampu bersaing ketika di saat yang sama Indonesia masih terbelit dengan persoalan-persoalan reputasi, citra, stigma, awareness yang rendah – di mata internasional?

Nama Indonesia – yang dalam terminologi komunikasi pemasaran dipahami sebagai brand, bukan semata identitas. Nama atau brand Indonesia adalah equity – segala sesuatu yang terkait dengan Indonesia. Lebih inti lagi, nama atau brand adalah “life and soul” dari sebuah bangsa bernama Indonesia.

Di tataran perdagangan internasional, nama membawa pesan institusional yang menjual komitmen negara secara keseluruhan terhadap kualitas. Persepsi atas sebuah nama (brand image awareness) negara-bangsa selalu dikaitkan dengan konsistensi dan inherensi semua usaha pengembangan yang dilakukan pengelola negara untuk kemajuan peradaban internasional. Tidak bisa tidak, nama atau brand, adalah competitive advantage.

Karena itu, mengelola nama Indonesia, adalah penting. Bahkan sangat penting. Terlepas dari perdebatan dan implikasi mengenai globalisasi itu sendiri, PERHUMAS meyakini bahwa di samping pentingnya reformasi kelembagaan, seperti efisiensi birokrasi, peningkatan mutu layanan publik, efektiftas regulasi, akuntabilitas dan transparansi serta penegakan hukum, maka juga diperlukan usaha-usaha komunikasi yang terintergrasi untuk mengelola “brand personality” Indonesia – baik di tingkat institusi, perusahaan sampai negara.

Kita tahu tidak semua tentang Indonesia merupakan sesuatu yang buruk. Indonesia sejatinya menyimpan banyak keunggulan kompetitif – baik sebagai negara, maupun sebagai bangsa. Persoalannya, seberapa banyak itu dikomunikasikan ke publik, dan seberapa besar publik memahami keunggulan tersebut?

Pada titik ini urgensi Konvensi Nasional Humas ditemukan. Melalui KNH, para praktisi dan penggiat Humas di Indonesia berharap memberikan sumbangsih pemikiran yang signifikan dalam upaya mengelola brand Indonesia untuk “Indonesia yang Lebih Baik”.

2. TUJUAN DAN SASARAN

a. Tujuan
Konvensi ini dirancang menjadi forum untuk melahirkan gagasan-gagasan dan pemikiran pada tataran operasional untuk para praktisi dan professional public relations, pimpinan perusahaan, praktisi media massa dan para pemangku mandat di pemerintahan dan juga untuk saling bersinergi dan memahami bidang kerja masing-masing.

Konvensi ini juga ditujukan untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi, lalu memfasilitasi berbagai titik singgung antara kalangan usaha swasta, entitas komuniti publik, penggiat kemasyarakatan, akademisi dan pemangku mandat.

Konvensi ini diharapkan dapat menghasilkan pemikiran- pemikiran dalam mentransformasikan peran public relations dalam tataran strategis tetapi operasional serta dapat melahirkan gagasan gagasan dalam menciptakan Country Branding Indonesia yang selanjutnya menjadi acuan bagi PERHUMAS dan stakeholdersnya dalam membangun Branding a Nation yang operasional.

b. Sasaran
Melalui terjadinya saling asah dan saling asuh serta saling memahami bidang kerja masing-masing dan ditemukannya titik singgung di masing-masing bidang kerja, Konvensi ini diharapkan bisa mengarah pada terbangunnya tekad utuh bahwa bidang kerja masing-masing stakeholder memiliki peluang untuk menjadi bagian dalam proses branding the nation.

3. TEMA : BRANDING THE NATION

4. WAKTU DAN TEMPAT
Batam, 3 – 6 Desember 2008

5. PROGRAM

Rabu, 3 Desember 2008

13:00 – 17:00
Registrasi, Hotel check-in (Planet Holiday Hotel, Batam)

19:00 - 21:00
Jamuan Makan Malam dan “Ice Breaking”:
- Ketua Panitia
- “Selamat Datang di Batam,” Walikota Batam

Kamis, 4 Desember 2008

09:00 – 10:30
- Pembukaan KNH 2008
Laporan Ketua Panitia
Sambutan Ketua Umum BPP Perhumas
Sambutan kunci: Wakil Presiden R.I. Bapak Jusuf Kalla

10:30 – 10:45
Istirahat

10:45 – 1130
Branding the Nation: Menteri Luar Negeri R.I., Bapak Hassan Wirayudha

11:30 – 12:30
PR dalam transformasi
“Landasan komunikasi dalam perspektif kebangsaan”, Dr. Renald Khasali
“Kepri sebagai entry gate Indonesia”, H. Ismeth Abdullah, Gubernur Kepulauan Riau

12:30 – 13:30
Luncheon talk
Topik: Oil company / Hospitality industry

13:30 – 15:00
Corporate Social Responsibility: “Tarik menarik antara biaya dan investasi”
- CSR, sebuah tanggung jawab yang dipaksakan? (Terry S.McPhail, President & GM ExxonMobil Indonesia)
- Mengefektifkan CSR untuk branding dan reputasi perusahaan ( Aminuddin,
Corporate Secretary, PT Astra International Tbk)
- Moderator: Agung Laksamana
15:00 – 16:30
- PR dan Media: “Sinergi antara pemilik informasi dan penyedia informasi”
- “Mempersempit jarak antara ketersediaan dan kebutuhan informasi” (Parni Hadi, Direktur Utama RRI), Media (Tommy Suryopratomo, Senior Corp Advisor Media Group),
Praktisi (Aditya Mandala, Senior Manager Relations, Medco Energi)
- Chairperson: Aselina Trihastuti

Internal Communications: “Sudahkah staff Anda menjadi duta perusahaan?”
“Strategi efektif membangun keutuhan perusahaan” (Hilmi Panigoro, President Komisaris PT Medco Energi International Tbk)
- Panelis (Agung Laksamana, Senior VP Communication Group HSBC)
- Panelis (Filianingsih H, Kepala Biro Humas, Bank Indonesia)
- Moderator: Henny S.Widianingsih

16:30 – 18:00 Rapat anggota

19:00 – 21:30 Perhumas Night
- Riau Thematic Dinner
- Ing Griya
- Prizes

Jumat, 5 Desember 2008

08:30 – 11:45
Crisis Management: “Sekarang waktunya mengubah krisis menjadi peluang”
- “Langkah-langkah perusahaan saat terjadi krisis” (Halim Mahfudz, Vice President Corp.Affairs, PT Direct Vision)
- Penanggap (Dr.Widodo, Ketua BPC Solo)
- Penanggap (Yusfa Hendri, Ketua BPC Batam)
- Moderator: Ratih Indra

“Perkembangan teknologi dan implikasinya terhadap tugas ke-PR-an”
- “Medium-medium komunikasi terbarukan dalam praktek Public Relations” (HSBC management)
- Penanggap (Nukman Lutfi)
- Penanggap (Dr. Indrawadi Tamin)
- Moderator: Deva Rahman

13:00 – 14:00
Luncheon talk
- Perkembangan PR (Perusahaan konsultsan PR /industri), atau
- New techno in communications (Telekomunikasi)

14:00 – 17:00
Touring the nations: “Challenges between a nation branding and commercial endeavor”
- Singapore Tourism Board
- Malaysian Tourism Board
- Istirahat
- Pidato penutup “Transformasi public relations untuk branding the nation,” Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Prof. Dr. Muhammad Nuh
- Penutupan KNH 2008 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika

19:00 – 21:30
- Malam Budaya
- Anugerah Perhumas

Sabtu, 6 Desember 2008
- Free time: Singapore tour/departure


6. PESERTA

Konveni Nasional Humas 2008 ini akan diikuti oleh:

1. Pejabat Pemerintah
2. Pimpinan Perusahaan
3. Pejabat dan Profesional Public Relations di Perusahaan
4. Praktisi dan konsultan professional Public Relations
5. Tokoh-tokoh komunikasi
6. Tokoh-tokoh media massa; cetak dan elektronik
7. Tokoh politik dan tokoh masyarakat
8. Akademisi
9. Media massa
10. Lembaga swadaya masyarakat dan Lembaga nir-laba
11. Anggota Perhumas
12. Mahasiswa dan peminat masalah komunikasi dan public relations

Sejarah Perhumas

Berdirinya PERHUMAS didasari cita-cita akan adanya sebuah forum profesi kehumasan di Indonesia.

Gagasan tersebut semakin menguat ketika salah seorang praktisi humas, Marah Joenoes menghadiri “World Public Relations Congress” ke-6 di Jenewa.

Akhirnya setelah melalui berbagai diskusi, pada tanggal 15 Desember 1972 secara resmi didirikanlah Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia yang disingkat PERHUMAS sebagai organisasi profesi kehumasan di Indonesia.

Para pendiri PERHUMAS antara lain adalah M.Alwi Dahlan, PH.D; Arifin Pasaribu; Augusto Thomas Graciano; D.Tahitoe,SH; Drs. Feisal Tamin; Drs. R.M. Hadjiwibowo; Kolonel Drs. Hoedioro; mayor Drs. I Made Arisandi; R. Imam Sajono; Drs. Mahiddin; Marah Joenoes; Moestafa Kemal; Mohammad Jahja daeng Nompo; Mohammad Ridwan; Nana Sutresna, MA; Roy Tjia Hen An; S.D.Pontoh,SH; Drs. Soemadi; Brigadir Jenderal Soemrahadi; Ir. Wardiman Djojonegoro; dan Wisaksono Noeradi.

KODE ETIK PERHUMAS

• Dijiwai oleh Pancasila maupun Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan tata kehidupan nasional;
• Diilhami oleh Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai landasan tata kehidupan internasional;
• Dilandasi oleh Deklarasi Asean (8 Agustus 1967) sebagai pemersatu bagsa-bangsa Asia Tenggara; dan
• Dipedomani oleh cita-cita, keinginan dan tekad untuk mengamalkan sikap dan perilaku kehumasan secara professional;

Kami para anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia – PERHUMAS sepakat untukmematuhi Kode Etik Kehumasan Indonesia, dan bila terdapat bukti-bukti diantara kami dalam menjalankan profesi kehumasan ternyata ada yang melanggarnya, maka hal itu sudah tentu mengakibatkan diberlakukannya tindak organisasi terhadap pelanggarnya.


PASALI
KOMITMEN PRIBADI
Anggota PERHUMAS harus :

1. Memiliki dan manerapkan standar moral serta reputasi setinggi mungkin dalam menjalankan profesi kehumasan.
2. Berperan secara nyata dan sungguh-sungguh dalam upaya memasyarakatkan kepentingan Indonesia.
3. Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan antar warga negara Indonesia yang serasi dan selaras demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.

PASAL II
PERILAKU TERHADAP KLIEN ATAU ATASAN
Anggota PERHUMASharus :

1. Berlaku jujur dalam berhubungan dengan klien atau atasan.
2. Tidak mewakili dua atau beberapa kepentingan yang berbeda atau yang bersaingan tanpa persetujuan semua pihak yang terkait.
3. Menjamin rahasia serta kepercayaan yang diberikan oleh klien atau atasan, maupun yang perrnah diberikan oleh mantan klien atau mantan atasan.
4. Tidak melakukan tindak atau mengeluarkan ucapan yang cenderung merendahkan martabat, klien atau atasan, maupun mantan klien atau mantan atasan.
5. Dalam memberi jasa-jasa kepada klien atau atasan, tidak akan menerima pembayaran, komisi atau imbalan dari pihak manapun selain dari klien atau atasannya yang telah memperoleh kejelasan lengkap.
6. Tidak akan meyerahkan kepada calon klien atau calon atasan bahwa pembayaran atau imbalan jasa-jasanya harus didasarkan kepada hasil-hasil tertentu, atau tidak akan menyetujui perjanjian apapun yang mengarah kepada hal yang serupa.

PASAL III
PERILAKU TERHADAP MASYARAKAT DAN MEDIA MASSA
Anggota PERHUMAS harus :

1. Menjalankan kegiatan profesi kehumasan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat serta harga diri anggota masyarakat.
2. Tidak melibatkan diri dalam tindak memanipulasi integritas sarana maupun jalur komunikasi massa.
3. Tidak menyebarluaskan informasi yang tidak benar atau yang menyesatkan sehingga dapat menodai profesi kehumasan.
4. Senantiasa membantu menyebarluaskan informasi maupun pengumpulan pendapat untuk kepentingan Indonesia.

PASAL IV
PERILAKU TERHADAP SEJAWAT
Praktisi Kehumasan Indonesiaharus :

1. Tidak dengan sengaja merusak dan mencemarkan reputasi atau tindak profesional sejawatnya. Namun bila ada sejawat bersalah karena melakukan tindakan yang tidak etis, yang melanggar huku, atau yang tidak jujur, termasuk melanggar Kode Etik Kehumasan Indonesia, maka bukti-bukti wajib disampaikan kepada Dewan Kehormatan PERHUMAS.
2. Tidak menawarkan diri atau mendesak klien atau atasan untuk menggantikan kedudukan sejawatnya.
3. Membantu dan bekerjasama dengan sejawat di seluruh Indonesia untuk menjunjung tinggi dan mematuhi Kode Etik Kehumasan ini

VISI DAN MISI

Misi tujuan PERHUMAS adalah”mengembangkan kompetensi paraprofessional humas diIndonesia untuk mendukung peningkatan citra positiforganisasi dan bangsa Indonesia”.

Tujuan PERHUMAS INDONESIA

1. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan para professional Hubungan Masyarakat di Indonesia.
2. Memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan mengenai Hubungan Masyarakat
3. Meningkatkan komunikasi dan pertukaran informasi dan pengalaman diantara para anggotanya.
4. Menyelenggarakan hubungan dengan organisasi-organisasi yang serumpun dengan bidang Hubungan Masyarakat


SASARAN STRATEGIS PERHUMAS INDONESIA

1. Meningkatkan kemampuan bidang kehumasan melalui Pelatihan Pengembangan anggota dan masyarakat humas di Indonesia
2. Memperluas kerjasama dengan lembaga kehumasan baik didalam negeri maupun diluar negeri
3. Mengembangkan organisasi kehumasan yang lebih profesional dengan memperjelas Arah Organisasi dan Sasaran Strategis PERHUMAS 3 tahun kedepan
4. Berperan aktif dengan bekerja sama dengan lembaga swasta dan pemerintah untuk memperbaiki citra positif bangsa Indonesia baik didalam negeri dan diluar negeri.